Rabu, 12 November 2008

Kunjungan YM Tekzin Dakpa Thasi ke Jogjakarta

Pada tanggal 6-9 November kemarin, YM Tenzin Dakpa Thasi, berkunjung ke Jogja. Beliau adalah Ritual MasterYM Dalai Lama XIV di Dharmsala, India.

Kunjungan beliau adalah untuk melihat secara langsung Vihara-vihara yang menjadi korban gempa bumi tahun 2006, serta mengunjungi Candi-candi peninggalan kerajaan Buddha abad ke 4-7. Kunjungan beliau yang didampingi oleh umat dari Malaysia ini, juga melakakan Puja di Vihara dan Candi-Candi tersebut.

Salah satu yang mendorong minat beliau untuk berkunjung adalah adanya mitos bahwa di masa lampau, YM Atisa, sebelum membangun Buddhism Tibet terlebih dahulu belajar Buddhism kepada guru Sakyakirti di Sriwijaya dan sempat berkunjung ke Borobudur. Selain ke Borobudur, beliau juga mengunjungi Candi Sewu, Candi Plaosan, Candi Kalasan, Istana Ratu Boko dan Candi Mendut.

Tak lupa, rombongan beliau juga berkunjung ke Vihara Karangdjati, sebagai Vihara tertua di Jogjakarta. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan apresiasi yang positif terhadap minat belajar Buddha Dharma masayarakat Indonesia, serta penghargaan yang mendalam terhadap mereka yang mau mengabdikan diri kepada Buddha Dharma. Selama kunjungan di Jogja ini, beliau didampingi oleh teman2 generasi muda Vihara Karangdjati.

Bersama umat Buddha di Vihara Buddha Murti, Kotesan, Prambanan. (salah satu Vihara korban gempa)
Di Vihara Karangdjati
Berkunjung ke Candi Plaosan
Berkunjung ke Candi Borobudur

Perayaan Kathina Dana 2558 tahun 2008

Perayaan kathina Dana di Vihara Karangdjati telah dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 29 Oktober 2008, dumiali repat pukul 19.00 WIB. Kathina Dana merupakan peryaan yang selalu dinantikan oleh Umat Buddha. Pada perayaan ini, umat berkesempatan mberikan dana kepada sangha yang baru saja menjalankan vassa.

Hadir mewakili Sangha pada perayaan kathina dan ini adalah Bhikkhu Jotidhammo Mahathrea dan Bhikkhu Saccadhammo. Dalam Khotbah Kathinanya, Bhikkhu Jotidhammo menegaskan tentang pentingnya berbuat baik. Berdana merupakan awal atau pintu gerbang untuk berbuat baik, membuka pintu bagi perbuatan baik lainnya. Hal ini terjadi karena tujuan dari berdana yang benar adalah untuk mengurangi kemelakatan dan ego kita. Berdana dengan tujuan benar dan dilaksanakan dengan benar, akan mengikis ego dan kemelakatan kita, sehingga dengan mudah memuncuklan kebajikan kebajinakn lainnya.

Hadir dalam perayaan kathina Dana ini segenap umat Buddha dari kawasan Kota Jogja, dan sejumlah tamu undangan termasuk Bapak Pembina Masyarakat Buddha, Kanwil Departemen Agama D.I. Yogyakarta. Umat yang hadir nampak antusias mengikuti jalannya upacara, dengan khimat dan tertib memberikan dana kathina masing-masing.

Gambar suasana perayaan Kathina Dana dapat dilihat dibawah ini:



Hinayana, sebuah Mitos Kuno

Beberapa di antara kita mungkin sering mendengar bahkan mungkin ada yang menggunakan istilah Hinayana. Ada yang berpendapat bahwa Hinayana adalah salah satu aliran/sekte dari Buddhisme yang berarti Kendaraan Kecil. Dan ada yang berpendapat bahwa aliran Hinayana adalah aliran Theravada. Dan ada juga yang berpendapat bahwa Hinayana berarti kendaraan berkapasitas kurang ? Benarkah demikian ? Mari kita ulas.

Kerancuan

Kita semua pasti sependapat bahwa pada masa kehidupan Sang Buddha tidak ada sekte atau aliran dalam Buddhisme. Apa yang diajarkan Sang Buddha pada saat itu hanyalah disebut Dhamma dan Vinaya. Oleh karena itu tidak mungkin aliran yang bernama Hinayana itu ada pada masa itu. Tetapi di antara abad ke-1 SM sampai abad ke-1 M istilah Mahayana dan Hinayana muncul dalam Saddharma Pundarika Sutra Atau Sutra Teratai. Istilah ini terdapat pada bab 3 dari Sutra Teratai. Ini menjadi hal yang menarik. Jika pada masa kehidupan Sang Buddha tidak ada sekte atau aliran dalam Buddhisme, mengapa terdapat istilah Mahayana dan Hinayana dalam Sutra Teratai yang dikatakan dibabarkan sendiri oleh Sang Buddha? Mengacu pada aliran manakah Hinayana ini? Theravada kah?

Pada masa sekarang terjadi kerancuan dalam umat Mahayana ataupun Vajrayana di dalam menggunakan istilah Hinayana dengan tiga cara yang berbeda, yaitu:

  1. Dalam pemahaman sejarah; aliran Pra-Mahayana di anggap sebagai Hinayana.
  2. Theravada modern dianggap sebagai Hinayana.
  3. Istilah Hinayana digunakan sebagai bagian internal dari ajaran Mahayana

Mari kita lihat lebih dekat penggunaan tiga cara ini.

  1. Beberapa orang menyatakan bahwa kata Hinayana adalah sebagai istilah untuk aliran lebih awal yang penggunaannya hanya digunakan pada masa lalu saja. Ini tidak benar. Hal tersebut dapat ditemukan di beberapa karya referensi modern, dan dalam literatur spesial lainnya, sebagai contoh dapat ditemukan di Buddhist Philosophy In Theory and Practice , H.V. Guenther, yang mengutip sebuah karya Tibet dari abad ke-18 dan 20.
  2. Sebagai contoh kerancuan istilah Hinayana dengan Theravada, terdapat dalam kutipan Bibliografi Jane Hope (Jane Hope pernah belajar kepada Chogyam Trungpa Rinpoche.), Buddha for beginners, dicetak tahun 1995, berikut terjemahan dari versi Norwegia: ”Buddhisme Hinayana. Suatu pengenalan yang baik untuk tradisi Hinayana adalah 'What the Buddha Taught', karya Walpola Rahula ... Berasal sudut pandang masa sekarang dan ditulis oleh dua orang Barat yang berlatih tradisi Theravada, adalah... Seeking the Heart of Wisdom, oleh Joseph Goldstein & Jack Kornfield ...”
  3. Sekarang untuk kerancuan yang kuat, terdapat dalam Buddhisme Tibet. Beberapa orang mengatakan bahwa Hinayana dan Mahayana pada awalnya adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan dua sikap spiritual yang berbeda, dan dikutip dari Bab ke-7 ("Loving Kindness and Compassion") dari karya Tibet klasik, The Jewel Ornament of Liberation, yang ditulis pada abad ke-10, dimana penulis, Jé Gampopa mengacu Hinayana sebagai “kapasitas sedikit” ("theg pa dman pa"). Paragrafnya terbaca sebagai berikut: “Berhubungan dengan kebaikan diri atas kedamaian semata (1) menandakan suatu sikap kapasitas yang rendah (2) dimana keinginan untuk menghapus penderitaan hanya dipusatkan pada dirinya sendiri. Dengan penghindaran penghargaan terhadap orang lain ini maka hanya ada sedikit pengembangan akan kepedulian terhadap yang lain. [...] Ketika Kasih Sayang dan Belas Kasih menjadi satu, begitu banyak rasa keperdulian terhadap kesadaran makhluk-makhluk lain sehingga seseorang tidak bisa hanya membebaskan dirinya sendiri saja. [...] Guru Manjushrikirti pernah mengatakan: 'Pengikut Mahayana seharusnya tidak tanpa memiliki kasih sayang dan belas kasih meskipun sekejap saja', dan'bukanlah kemarahan dan kebencian tetapi kasih sayang dan belas kasih-lah yang bersedia memberikan kesejahteraan orang lain'.”

Catatan kaki pada bagian buku ini adalah sebagai berikut:

(1) Kata zhi.ba dalam bahasa Tibet berarti ”damai”( peace ). Pada bagian buku tersebut diterjemahkan sebagai ”kedamaian semata” ( mere peace ), sejak buku tersebut digunakan oleh Gampopa untuk menunjukkan hubungan kedamaian tanpa belas kasih yang merupakan hasil dari pengembangan meditasi konsentrasi semata saja.
(2) Hinayana: ”kapasitas sedikit” sering diterjemahkan sebagai ”kendaraan kecil”. Istilah ini menyiratkan kemampuan untuk membawa beban. Dalam kasus ini beban tersebut adalah diri sendiri sejak seseorang berkomitmen untuk membawa diri sendiri pada pembebasan sendiri, bukan semua orang (dalam hal ini Mahayana, ”kapasitas besar”).

Masalah dan kerancuan di sini tentunya bukanlah sebuah analisa yang mengacu secara langsung pada kata hinayana dalam bahasa Pali/Sanskerta, tetapi mengacu pada terjemahan bahasa Tibet "theg pa dman pa". Inilah kunci permasalahannya.


Pengertian Hinayana

Kita mulai dengan pengertian dari kata Hinayana. Kata Hinayana bukanlah berasal dari bahasa Tibet, bukan berasal dari bahasa China, Inggris ataupun Bantu, tetapi berasal dari bahasa Pali dan Sanskerta. Oleh karena itu, satu-satunya pendekatan yang masuk akal untuk menemukan arti dari kata tersebut, adalah mempelajari bagaimana kata hiinayaana digunakan dalam teks Pali dan Sanskerta.

Kata hiinayaana berasal dari 2 kata, yaitu ”hiina” dan ”yana”. Kata ”yana” berarti kendaraan, tidak ada yang berselisih paham mengenai kata ini. Sedangkan beberapa orang mengatakan kata ”hiina” adalah lawan dari kata ”maha”. Padahal bila kita menengok bahasa Sanskerta maupun bahasa Pali, lawan kata dari kata ”maha” yang berarti besar bukanlah ”hiina” tetapi kata ”cuula” yang berarti ”kecil”. Lalu apakah arti kata ”hiina”? Kata ”hiina” sendiri berarti rendah, buruk, amoral. Hal ini dapat dibuktikan dengan kata ”hina” dalam kosakata Indonesia yang sedikit banyak dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta.

Selain itu, di dalam kitab Pali, dimana setiap Buddhist tentu tahu kotbah pertama Sang Buddha yaitu Dhammacakkappavattana Sutta , sebuah kotbah yang disampaikan kepada lima petapa yang menjadi lima bhikkhu pertama, di dalamnya terdapat kata ”hiina”. Sang Buddha bersabda: ”Dua pinggiran yang ekstrim, O para bhikkhu, yang harus dihindari oleh seseorang bhikkhu (yang meninggalkan keduniawian). Pinggiran ekstrim pertama ialah mengumbar napsu-napsu, kemewahan, hal yang rendah (hiina), kasar, vulgar, tidak mulia, berbahaya...”


Mengingat bahwa sutta memiliki gaya yang sering mengunakan kata-kata yang bersinonim, sehingga saling menguatkan dan menjelaskan satu sama yang lain, maka dalam hal ini dapat dilihat bahwa , kasar, vulgar, tidak mulia, berbahaya adalah sebagai definisi pelengkap dari kata ”hiina”.

Di sini Sang Buddha menunjukkan dengan jelas bahwa jalan yang harus dihindari untuk dilatih merupakan sesuatu yang hiina.


Dalam teks Pali dan komentar lainnya, hiina sering digunakan dalam kombinasi kata hiina-majjhima-pa.niita, yaitu : buruk – menengah – baik. Dalam konteks hiina- majjhima-pa.niita (atau kadang hanya hiina- pa.niita ), kata ”hiina” selalu digunakan sebagai suatu istilah untuk kualitas yang dihindari seperti kebencian, keserakahan, dan kegelapan batin. Hal ini jelas bahwa kata ”hiina” berarti ”rendah, yang harus dihindari, tercela”, dan bukannya ”kecil” atau ”kurang”.


Sekarang dalam teks Sanskerta. Dalam Lalitavistara kita dapat menemukan versi Dhammacakkappavattana Sutta , dimana kata ” hiina ” digunakan tepat seperti kutipan dalam sutta versi Pali.


Dalam Mahayanasutralankara karya Asanga, yang mewakili seluruh teks Mahayana, kita menemukan sesuatu yang menarik bagi pertanyaan kita. Asanga mengatakan: ”Ada tiga kelompok manusia: hiina-madhyama-vishishta …(buruk-menengah-terbaik).” Ungkapan ini sesuai dengan teks Pali: hiina-majjhima-pa.niita , dan ini menunjukkan bahwa umat Mahayana yang menggunakan istilah ”hinayana” , melihat ”hiina” sebagai istilah penjelekkan (penghinaan), dengan arti yang sama seperti dalam teks Pali.


Teks yang sangat menarik yaitu edisi dari Catushparishatsutra dimana teks tersebut di tampilkan dalam 4 kolom sejajar: terjemahan Sanskerta, Pali (Mahavagga), Tibet dan Jerman yang berasal dari versi bahasa China. Di ini, kembali, kita menemukan Dhammacakkappavattana Sutta. Kita telah melihat terjemahannya dalam bahasa Sankerta dan Pali. Versi Jerman dari bahasa China mengatakan: “Erstens: Gefallen zu finden an und anzunehmen die niedrigen und üblen Sitten der gewöhnliche Personen ..." Sedikit kurang jelas apakah kata "niedrigen" (hina) atau "üblen" (jahat, buruk) berhubungan dengan ”hiina”. Tapi pada akhirnya, jelas bahwa konotasi yang sangat negatif dari kata ”hiina” terdapat pada terjemahan bahasa China.


Dalam kolom terjemahan bahasa Tibet, kita menemukan kata Tibet "dman-pa" berhubungan dengan kata ”hiina” dalam bahasa Sanskerta, sesuai dengan kutipan Jé Gampopa di atas. Dan di ini kita memiliki penyebab dari kerancuan dan kesalahpahaman kemudian atas istilah hiiinayana. Mari kita lihat kamus bahasa Tibet-Inggris tentang "dman-pa": Kamus Sarat Chandra Das mengatakan : ” dman-pa: sedikit (low) mengacu pada kuantitas atau kualitas, kecil (little)”. Kamus Jäschke bahkan lebih menjelaskan: “"dman-pa": 1. sddikit (low), mengacu pada kuantitas, kecil (little). 2. mengacu pada kualitas: acuh tak acuh (indifferent), hina/buruk (inferior) (Ssk :hiina).”


Berdasarkan hal itu nampaknya kata hiina dalam bahasa Sanskerta, tanpa diragukan lagi berarti ”kualitas rendah/buruk” yang diterjemahkan dalam bahasa Tibet sebagai ”dman-pa” memiliki dua arti yaitu ”kualitas rendah” dan ”kuantitas sedikit”. Dan petikan dari Jé Gampopa di atas nampaknya mengindikasikan bahwa banyak orang Tibet untuk selanjutnya membaca pada arti yang terakhir dari kedua arti tersebut sebagai ”kapasitas sedikit”, ”kapasitas kecil”, jadi artinya mengalami distorsi dari ”kualitas rendah/buruk” menjadi ”kuantitas sedikit ”.


Dengan demikian kita melihat bahwa kerancuan timbul dari fakta bahwa kata ”dman-pa” memiliki dua arti dalam bahasa Tibet. Hinayana – semula berarti ”kendaraan kualitas buruk.” – yang kemudian memiliki arti baru ”kendaraan kapasitas rendah”. Tapi hal ini berasal dari cara yang salah. Tentu adalah sebuah kesalahan menerapkan suatu arti dalam bahasa Tibet yang baru ke dalam bahasa Sanskerta/Pali, dan mengatakan, ”Inilah arti dari Hinayana, karena inilah bagaimana para Guru di Tibet menjelaskannya.” Apa yang para Guru Tibet jelaskan adalah kata ”dman-pa” dalam bahasa Tibet, bukan kata hiina dalam bahasa Sanskerta.


Oleh karena itu jelas sudah bahwa seseorang tidak dapat menyatakan bahwa Hinayana memiliki pengertian yang ”lembut” seperti yang diberikan oleh tradisi Tibet melalui kata ”dman-pa”. Hinayana bukanlah bahasa Tibet, tetapi Sanskerta/Pali, dan memiliki arti yang kasar, arti yang bersifat menghina yang tidak dapat dirubah oleh usaha perlunakkan apapun.


Hinayana sebuah aliran Buddhisme?

Di mulai pada Sidang Agung Sangha ke-2 dimana Buddhisme terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, disisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada.


Sidang Agung Sangha ke-3 (abad ke-3 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravada.


Setelah Sidang Agung Sangha ke-3, Buddhisme terdiri dari 18 aliran yaitu:

(1) Thera-vadino, (2) Vajjiputtaka, (3) Mahigsasaka, (4) Dhammuttarika, (5) Bhaddayanika, (6) Channagarika, (7) Sammitiya, (8) Sabbatthivada, (9) Dhammaguttika, (10) Kassapika, (11) Sankantika, (12) Suttavada, (13) Mahasamghika, (14) Gokulika, (15) Ekabyoharika, (16) Bahulika, (17) Pannatti-vada, (18) Cetiya-vada.


Banyak hal-hal yang terjadi pada masa itu di India Pusat. Di antaranya adanya beberapa kelompok bhikkhu yang menjalankan Buddha Dhamma secara ekstrim dengan hanya mementingkan intelektual semata dan lupa dengan hal yang utama yaitu praktek dan pengamalan. Kemudian kelompok lain yang memegang prinsip pengamalan mulai melakukan kritik dan menerapkan konsep bodhisatta, namun mereka pun menjadi ekstrim sehingga menciptakan figur-figur bodhisatta.


Akhirnya antara abad ke-1 SM sampai abad ke-1 M, muncullah Saddharma Pundarika Sutra dengan istilah Hinayana dan Mahayana. Dan sekitar abad ke-2 M, aliran Mahayana menjadi nyata dan utuh setelah Nagajurna mengembangkan filsafat Sunyata dalam teks kecil yaitu Madhyamika-karika. Abad ke- 4 M , Asanga dan Vasubandhu menulis banyak karya mengenai Mahayana.


Dari sejarah yang telah di sampaikan di atas, tidak ada aliran yang bernama Hinayana pada 18 aliran Buddhsime terdahulu. Lalu siapa yang dimaksud dengan Hinayana dalam Sutra Teratai ? Apakah Theravada ? Tidak, ketika Mahayana muncul dengan Sutra Teratainya, Theravada yang dulunya bernama Sthaviravada telah ”hijrah” atau ”beremigrasi” ke Sri Lanka dan ketika perdebatan Mahayana-Hinayana terjadi, sukar untuk menghitung aliran mana yang mendominasi di India Pusat. Aliran tua yang sangat berpengaruhi saat itu adalah Sarvastivada, jadi mungkin saja aliran ini, tapi sukar dikatakan jika hanya aliran ini saja yang merupakan target satu-satunya dari ejekan ”Hinayana”.


Sekarang Sarvastivada dan aliran-aliran Buddhisme lain di India Pusat yang ada pada saat itu sudah lama mati, kecuali Theravada. Tidak bisa dipastikan siapa sebenarnya Hinayana itu. Hinayana itu tidak ada. Hinayana hanyalah sebuah mitos.


Istilah Hinayana yang berkonotasi negatif ini hanya bisa dipastikan sebagai suatu kritikan bahkan ejekan untuk aliran terdahulu yang masih ada pada waktu itu yang melakukan hal yang tidak sesuai Dhamma dan Vinaya seperti misalnya hanya mementingkan intelektual semata dan lupa dengan hal yang utama yaitu praktek dan pengamalan. Istilah ”Hinayana” tidak lain juga merupakan bentuk defensive kelompok Mahayana terhadap kritikan dari aliran lama yang mengkritik umat Mahayana, khususnya mengenai penciptaan sutra-sutra baru dan ”penempaan” sabda-sabda Sang Buddha. Demikianlah mengapa istilah Hinayana mendapat sebutan ”miring” sebagai aliran yang mementingkan pribadi. Dan istilah ”Hinayana” ini terus berlangsung dan dipegang oleh beberapa umat Mahayana dan Vajrayana untuk menamai aliran/sekte di luar Mahayana dan Vajrayana.


Pada tahun 1950, World Fellowship of Buddhists dalam World Council di Colombo telah menyepakati bersama bahwa istilah Hinayana harus disingkirkan dari penamaan terhadap aliran lain. Dan sangat disayangkan jika dewasa ini masih ada yang memegang mitos ini sampai sekarang.

Literatur:

The Myth of Hinayana - Kare A. Lie
Theravada - Mahayana Buddhism - Ven. Dr. W. Rahula
Two Main Schools of Buddhism – Ven. K. Sri Dhammananda
The Sects of the Buddhists , T. W. Rhys Davids, The Journal of the Royal Asiatic Society,1891
The Lotus Sutra - Soothill And Kern

Disusun dan Online di : Bhagavant.com


Sabtu, 27 September 2008

Dhammaclas Masa Vassa sesi ke-3

Dhammaclas sesi ke-3 atau terakhir di Vihara Karangdjati tahun ini diadakan pada hari Sabtu, 20 September 2008, tepat jam 19.00 WIB. Sebagai pembicara adalah Bhante Saccadhammo. dengan dihadiri sekitar 70 umat Buddha.

Pada kesempatan ini Bhante Saccadhamo menguraikan tentang pilihan. Dalam kehidupan ini, setiap saat kita dihadapkan pada banyak pilihan tindakan. Begitu banyak pilihan itu sehingga kadang kita dibuat bingung. Tak jarang pula kita menyesal terhadap pilihan tindakan yang kita ambil setelah berakibat tidak baik.

Dengan banyaknya pilihan itu, maka diperlukan kemampuan untuk mengambil tindakan mana yang tepat. Nah pilihan tindakan yang tepat adalah tindakan yang mendukung ke arah kebajikan, tidak merupakan pemuasan dari kebencian atau keserakahan. Tak lupa, pilihan yang kita ambil itu semesthinya juga tidak membuat orang lain atau makhluk lain dirugikan.

Lebih dari itu, setelah kita mengambil pilihan tindakan, yang penting juga adalah bertanggungjawab terhadap pilihan yang kita ambil. Tak lain karena setiap pilihan mengandung resiko. sang Buddha sebagai guru juga menawarkan pilihan jalan untuk menuju ke kebahagaian sejati. Sang Buddha tidak mengajarkan ajarannya berupa larangan dan kewajiban, tapi sebuah ulasan agar kita menjadi bijak dalam memilh jalan. Jalan menuju pembebebasan yang diajarkan Sang Buddha pun hanya bermanfaat kalau kita berjalan pada pilihan jalan itu.

Dhammaclas malam itu merupakan Dhammcla masa vassa sesi terakhir. Berikutnya bulan depan sudah memaasuki Bulan Kathina. Selamat merayakan Kathina Dana 2552 kepada seluruh Umat Buddha sekalian.

Kunjungan Peserta Indonesian Arts and Culture Scholarship 2008

Hari Sabtu tanggal 20 September 2008 jam 15.00WIB, Vihara Karangdjati mendapat kunjungan dari Sanggar Sekar Setaman Taman Budaya Yogyakarta yang merupakan tuan rumah dari program Indonesian Arts and Culture Scholarship 2008. Kunjugan ke Vihara itu merupakan bagian dari kegiatan memperkenalkan keragaman budaya dan religi di Yogyakarta.

Dalam kunjungan tersebut, hadir semua peserta Indonesian Arts And Culture Scholarship 2008 dari berbagai negara seperti Jepang, Nauru, Fiji, Samoa, Thailand, Philipina, Myanmar, Vietnam, Tonga, China dan Azerbaijan, dengan didampingi oleh 3 pendamping yaitu Ibu Anggi Minarni, Bapak Ferial Afii dan Ibu Titi Handayani.

Kunjungan mereka disambut oleh Pengurus Vihara Karangdjati yaitu Bapak Supriyanto selaku ketua Vihara, didampingi Bapak Soetrisno, Agus dan Tri. Rombongan diterima di ruang meeting room dengan diawali perkenalan secukupnya. Setelah itu, Pengurus Vihara memperkenalkan Vihara Karangdjati, dimulai dari sejarah berdirinya, kegiatannya serta hubungan dengan masyarakat secara umum. Sempat juga diadakan tanya jawab dengan peserta, tentang berbagai hal mengenai Vihara Karangdjati.

Acara kemudian dilanjutkan dengan melihat lingkungan Vihara, ruang Dhammasala, dan dilanjutkan dengan foto bersama di depan altar Vihara Karangdjati.

Minggu, 14 September 2008

Sengkalan Yang Tak Sekedar Prasasti

Dalam budaya Jawa, terdapat tata cara untuk menandai masa atau tahun tertentu dengan ungkapan rangkaian kata-kata yang jika dibaca (diartikan) dengan angka membentuk tahun terjadinya sesuatu. Hal ini sudah berlangsung sejak jaman sebelum Majapahit hingga saat ini.

Vihara Karangdjati juga demikian. Dalam prasasti di gapuranya tertulis rangkaian kata menggunakan abjad jawa, Rasa luhur Rinenggo Bekti , katon asri gapura dharma. Jika di baca Rasa (2) Luhur (6) Rinenggo(9) Bekti (1) dan Katon (5) Asri (0) Gapura (5) Dharma(2). Dibaca, menurut aturan sengkalan, tanda tahun dibaca dari belakang maka menjadi angka 1962 dan 2505. Artinya prasasti pernyataan pendirian atau peresmian Vihara Karangdjati adalah tahun 1962 masehi atau 2505 BE.

Nah, tidak sekedar rangkaian kata dan tahun yang tertulis indah, namun juga pilhan kata yang diambil. Rasa luhur Rinenggo Bekti maksudnya adalah Rasa luhur yang dihiasi dan didorong semangat bakti dan mengabdi. Katon Asri Gapura Dharma berarti terlihat indah pintu gerbang Dharma. Bukan sekedar prasasti, namun juga seperti tekad, untuk terus mengabdi memberikan pelayan dan membawa keluhuran Jiwa memasuki gerbang Dharma.

Sabtu, 13 September 2008

Kunjungan Murid SD ke Vihara Karangdjati

Hari sabtu, 13 September 2008 sekitar jam 10 pagi, Vihara Karangdjati tampak semarak oleh kehadiran anak-anak. Mereka sekitar 40 anak, Murid-murid gabungan dari tiga SD, yaitu SDN Deresan, SDN Percobaan 2 dan SDN Kledokan. Mereka adalah para siswa Kristiani yang sedang mengkikuti kegiatan pengenalan multikultral keagamaan. Dengan didampingi oleh Bapak-Ibu gurunya, datang ke Vihara dalam rangka mengenal lebih dekat tempat ibadah umat Buddha.

Menurut para Gurunya, kegiatan ini dilakukan agar anak didiknya mengenal tempat ibadah umat lain sejak dini, sehingga akan terbentuk rasa saling menghormati satu sama lain. Alangkah baiknya jika pemahaman keberagaman itu dimulai sejak dini.

Rombongan di sambut oleh Bapak Supriyanto, selaku ketua Vihara, dengan di dampingi Sdr Agus dan Sdr Tri. Seteah dilakukan perkenalan sedikit, kemudian dikenalakan bagian2 dari Vihara. Juga dijelaskan tentang Altar dan simbol2 yang ada di Altar. Atas permintaan dari para Murid, dilakukan juga simulasi sikap duduk, anjali dan tatacara Puja Bakti agama Buddha.

Sayang, karena keterbatasan waktu, jadi acara tersebut harus terhenti meski kelihatan para murid dan bahkan guru-gurunya masih antusias untuk mengetahui lebih lanjut tentang Vihara dan seluk beluknya.

Minggu, 07 September 2008

Dhammaclas Masa Vassa sesi kedua

Dhammaclas masa Vassa untuk sesi yang kedua telah dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 6 September 2008 di Vihara Karangdjati. Acara Dhammaclas di mulai jam 19.00 wib dan dihadiri sekitar 60 umat Buddha di Yogyakarta. Hadir dalam kesempatan ini adalah Bhante Jotidhammo Mahathera sebagai nara sumber.

Dalam kesempatan ini Bhante Jotidhammo menyampaikan tentang bagaimana kita sebaiknya menjujung tinggi dan respek terhadap kebajikan. Dalam masyarakat sekarang ini, sering yang muncul adalah rasa respek dan menjunjung tinggi hal-hal diluar kebajikan, hal ini misalnya menjujung tinggi kemewahan, menjujung tinggi gya hidup, menjunjung tinggi ketenaran, menjujung tinggi kekayaan, atau memnjunjung tinggi kepandaian.

Dengan menjunjung tinggi hal-hal itu, maka kita menjadi mengejar hal-hal tersebut, serta menjadi kagum terhadap orang-orang yang memilikinya. Akibatnya dalam rangka mendapatkannya itu, maka kita menjadi tidak lagi peduli terhadap hal-hal yang bersifat kebajikan. Sebaiknya, kita menjunjung tinggi kebajikan dengan memberi respek yang tinggi terhadap pembuat kebajikan, serta kita selalu berbuat bajik juga.

Jumat, 29 Agustus 2008

Pertandingan Bulutangkis Persahabatan

Hari Kamis malam tanggal 28 Agustus 2008, dimulai jam 19.00 WIB, di Lapangan Bulutangkis Vihara Karangdjati, diadakan pertandingan Bulutangkis persahabatan antara Klub Bulutangkis Vihara Karangdjati, dengan Klub Bulutangkis Mranggen. Klub Bulutangkis Vihara Karangdjati adalah umat dan simpatisan yang sering berlatih bulutangkis bersama di lapangan Bulutangkis Vihara Karangdjati, sedangkan Klub Bulutangkis Mranggen adalah pemuda dan warga dari kampung mranggen yang sering berlatih Bulutangkis bersama di lapangan Bulutangkis kampung Mranggen.

Tujuan dari pertandingan perahabatan ini adalah untuk menjalin persaudaraan yang lebih erat antaar warga Vihara dengan warga di kampung Mranggen, kampung yang hanya terletak di sebelah barat Vihara Karangdjati.

Acara pertandingan diawali dengan perkenalan yang dipimpin oleh Bapak Supriyanto selaku Ketua Vihara Karangdjati, breefing teknis pertandingan, dan undian tim. Pertandingan itu mempertandingkan 6 pertandingan, yang semuanya pertandingan nomor Ganda. Dengan demikian setiap tim mempersiapkan 6 pasang tim. Hasil pertandingan, Tim Vihara Karangdjati menang 4 kali sedangkan tim Mranggen menang 2 kali.

Bukan menang kalah yang dicari, tetapi sebagaimana tujuan pertandingan tersebut, maka menambah teman dan sahabat baru, itulah yang diharapkan.

Rabu, 27 Agustus 2008

Karangdjati Temple : A Buddhist Heritage in Jogja

Kesusu selak apa; alon-alon ngenteni sapa (tergesa-gesa keburu apa; pelan-pelan menunggu siapa) -- filosofi Jalan Tengah a la Vihara Karangdjati.

Pertengahan 1980-an. Dengan mengayuh sepeda, aku kadang melintasi Dusun Karangjati, beberapa kilometer di sebelah utara perempatan Tugu, Jogjakarta. Di dusun itu terdapat sebuah vihara kecil, di antara petak-petak sawah dan pepohonan hijau, juga lambaian nyiur pohon-pohon kelapa. Berhenti di pinggir jalan aspal, mataku senantiasa terpaku ke arah bangunan sederhana itu. Begitu misterius! Rasanya seperti di tarik melintasi sebuah lorong waktu: lamunanku melayang ke sebuah dusun terpencil di pinggir hutan di pedalaman Asia Selatan. Begitulah imajinasi yang dipicu oleh lanskap Dusun Karangjati dengan bangunan viharanya yang sunyi.

Pada suatu hari pernah pula kulihat dari kejauhan beberapa orang lelaki tengah bekerja bakti mencari batu-batuan dan pasir dari sebuah sungai, kira-kira 300 m di sebelah barat vihara. Penduduk setempat menyebutnya dengan nama Kali Popongan (barangkali berasal dari kata bopong + akhiran -an dalam bahasa Jawa). Mereka tampak bekerja bersama-sama dengan riang-gembira, membangun pagar keliling dan gapura vihara. Hanya berlangsung beberapa kejap, penglihatan itu pun hilang-baur. Tinggallah diriku sendiri di atas sepeda memandang vihara di kejauhan dengan hamparan sawah dan pohon-pohon kelapanya.

Entah siapa pendiri pertama bangunan Vihara Karangdjati. Bangunan induk mungkin sudah berdiri pada masa penjajahan Belanda dan sang pemilik menggunakannya untuk kandang sapi perah. Pada masa itu area Karangjati masih merupakan lahan perkebunan tebu yang sangat luas, belum merupakan perkampungan padat seperti sekarang. Dengan peralihan kekuasaan dari Belanda ke tangan Republik, lahan tersebut akhirnya menjadi milik Romo Among (sapaan akrab untuk Romo Pandita Syaila Indra Among Pradjarto).

Bhikkhu Jinaputta berperan penting dalam alih-fungsi kandang sapi tersebut menjadi sebuah vihara. Mulanya, 1958, Bhante Jinaputta menjalankan vassa di Jogjakarta. Beliau tinggal di Cetiya Buddha Khirti, milik Bapak Tjan Tjoen Gie (Gunavarman Boediharjo) di Kampung Sajidan sebagai satu-satunya tempat ibadah umat Buddha di Jogjakarta pada waktu itu. Atas kesepakatan di antara Pak Tjan dan Romo Among, Bhante Jinaputta lalu ditempatkan di bekas kandang sapi kepunyaan Romo Among. Bekas kandang ini pun dibersihkan hingga layak menjadi tempat vassa bagi Bhante Jinaputta.

Sejak itulah, atas persetujuan Romo Among, kegiatan-kegiatan keagamaan mulai dilaksanakan di bangunan bekas kandang sapi tadi. Delapan orang tokoh, dikenal dengan sebutan Djojo 8 (baca: joyo wolu), berperan penting di sini. Selain Romo Among dan Bapak Tjan Tjoen Gie, mereka adalah Bapak Soeharto Djojosoempeno, Bapak Djoeri Soekisno, Bapak Kho Tjie Hong, Bapak Tan Hok Lay, Bapak Moesihardjono, dan Bapak Krismanto. Karena kegiatan vihara mulai membutuhkan tempat yang lebih luas, maka didirikanlah pagar keliling dan gapura sehingga tahun 1962 akhirnya dinyatakan sebagai tahun lahirnya Vihara Karangdjati secara resmi. Pada 1980-an tokoh-tokoh penting penggerak vihara mulai menginjak usia tua, bahkan sudah meninggal, termasuk para tokoh Djojo 8. Puncaknya adalah wafatnya Romo Among pada 1993. Vihara Karangdjati pun memasuki sebuah periode sulit. Aktivitas vihara menukik drastis sampai dengan titik terendah.

Baru semenjak 1998 Vihara Karangdjati mulai menggeliat kembali. Bangunan fisik yang renta itu mulai berbenah. Renovasi ruang pertemuan dan pavingisasi dilakukan pada 2001; kemudian menyusul renovasi altar pada 2004 dan pemasangan kanopi pada 2005. Akibat gempa, pagar barat yang runtuh pun harus direnovasi pada 2006 yang lalu. Titik kulminasinya adalah Perayaan Kathina 2550/2006. Bersaman dengan perayaan ini, babak baru pun dibuka, tonggak sejarah vihara ditancapkan. Kamis, 20 November 2006, hibah tanah vihara dilakukan dari keluarga Almarhum Romo Among kepada Sangha Teravada Indonesia.

Sebelum berdiri vihara-vihara lain di Jogjakarta, Vihara Karangdjati adalah vihara yang pertama. Vihara ini, tak pelak lagi, adalah sebuah heritase budaya (cultural heritage) yang penting bagi umat Buddha di Jogjakarta pada khususnya serta siapa saja pada umumnya yang ikut peduli dan merasa memiliki.

NB :
Tulisan ini di tulis oleh Bpk Kris Budiman, seorang Seniman dan Dosen Ilmu Sosial di Yogyakarta. dan sudah dipublikasikan di Blog beliau juga.

Selasa, 26 Agustus 2008

Semarak Tujuhbelasan di Vihara Karangdjati

Menyambut peringatan HUT RI ke-63, Vihara Karangdjati yang diprakarsai oleh generasi muda yang tergabung dalam DPC Patria Kota Yogyakarta, mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk meramaikan HUT RI sekaligus sebagai ajang menumbuhkan persahabatan dan keakraban.

Kegiatan yang diadakan adalah lomba-lomba seperti balap karung, makan kerupuk dan balap kelereng. Sedangkan kompetisi yang agak resmi adalah pertandingan Bulutangkis dan lomba Masak Nasi Goreng. Perlombaan dan pertandingan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai Vihara dan Kamadhis (keluarga Mahasiswa Buddhis) berbagai kampus di Yogyakarta.

Tampil sebagai juara Lomba masak adalah keluarga Bpk Soetrisno, keluarga Ibu Ira, dan Vidyasena Vihara Vidyaloka, sedangkan juara Bulutangkis adalah Pasangan Anton/Rudi dari Kamadhis UGM sebagai juara satu, dan pasangan Lucky/Rudi dari Universitas Atmajaya sebagai juara 2.

Perlombaan dan pertandingan berlangsung dalam suasana meriah, dan menonjolkan sikap persahabatan daripada sekedar mencari gelar juara. Yang terpenting adalah bisa gembira bersama sesaat, menambah teman baru dalam perayaan kemerdekaan ini.

Berikut Pic2 dari semarak kemerdekan di Vihara Karangdjati :

pelan-pelan...!! kelerengnya jatuh lho..

Ops, susahnya, biar kerupuknya enak dikasih kecap dulu kali..

ayoo cepat, ntar karungnya kabur...

suasana lomba masak nasi goreng


Pemberian hadiah untuk pemenang Lomba Bulutangkis

Dhammaclas masa Vassa sesion 1

Begitu masa vassa bagi para Bhikkhu dimulai, maka sudah menjadi agenda rutin bagi Bhikkhu2 yang menjalani masa Vassa di Vihara Mendut untuk mengintesifkan khotbah Dhamma kepada para umat disekitarnya, termasuk juga umat yang berada di Yogyakarta.

Dalam masa Vassa tahun ini, Vihara Karangdjati mendapatkan jadwal tiga kali, yaitu pada tanggal 23 Agustus, 6 September dan 20 September. Nah, pada kesempatan yang pertama tanggal 23 Agustus kemarin, hadir sebagai pengisi adalah YM. Bhante Sri Pannyavaro Mahathera.

Dalam khotbahnya, Bhante Pannya (panggilan akrab beliau) memberikan ulasan tentang pentingnya melatih untuk dapat "mengamati" gerak gerik pikiran kita, yang ditimbulkan baik oleh pengaruh lingkungan maupun kondisi fisik. Hal tu diperlukan agar kita mampu menjadi pemenang, tuan bagi diri kita sendiri.

Dhammaclas pada kespematan yang pertama ini dihadiri sekitar 75 Umat dari berbagai pelosok kota Yogyakarta, berlangsung selama dua jam dari jam 19.0-21-00 WIB. Ditunggu kehadiran umat pada Dhammaclas masa Vassa 2008 yang kedua, tanggal 6 September yang akan datang.

Puja Bhakti Asadha 2552

Puja Bakti perayaan Asadha 2552 tahun 2008 di Vihara Karangdjati diadakan pada hari Rabu tanggal 6 Agustus 2008. Perayaan kali ini diadakan secara sederhana tanpa mengurangi makna dan suasana khidmat.
Hadir dalam perayaan ini adalah Bhante Saccadhamo dan dua orang samanera dari Vihara Mendut, Magelang. serta puluhan umat dari Kota Yogyakarta. Puja Bakti sendiri dipimpin oleh Rm. Supriyanto dari Magabudhi DIY.

Dalam Khotbah Asadhanya, Bhante Saccadhamo memngingatkan kembali tentang peristiwa Asadha di Jaman Buddha gautama, dan tentang Khotbah pertamanya yang sangat fundamental, yaitu tentang Empat kesunyaatan Mulia, yang terdiri dari Kesunyataan tentang Dukkha, asal mula Dukkha, lenyapnya Dukkha dan jalan menuju lenyapnya Dukkha. Semoga saja kita senantiasa berada dijalan yang tepat untuk menuju lenyapnya Dukkha.

Asadha adalah hari besar memperingati peristiwa penting bagi umat Buddha, yaitu Khotbah pertama dari Sang Buddha Gautama, serta terbentuknya Sangha (pasamuan Bhikkhu) untuk pertama kalinya di jaman Sang Buddha Gautama.

Pelantikan DPC PATRIA Kota Yogyakarta

Hari Minggu, tanggal 3 Agustus 2008, di Vihara Karangdjati diadakan pelantikan Dewan Pengurus Cabang Pemuda Theravada Indonesia (Patria) Kota Yogyakarta. Pelantikan ini menandai aktifnya kembali DPC Patria Kota Yogyakarta setelah sempat tidak aktif sekian bulan.

Sebelum acara pelantikan terebut, telah diadakan Musyawarah Cabang Luar Biasa yang difasilitasi oleh DPD Patria Propinsi D.I. Yogyakarta pada tanggal 22 juli 2008. Hasil dari Muscablub tersebut, terpilih Sdr. Iwan Soetrisno sebagai ketua baru DPC Patria Kota Yogyakarta Periode 2008-2010.

Acara pelantikan difasilitasi oleh DPD PATRIA D.I.Yogyakarta, dihadiri oleh semua unsur Keluarga Besar Theravada Indonesia yang ada di DIY. Dari Sangha Threavada Indonesia hadir Bhikkhu Saccadhammo sebagai upa-padesanayaka (Bhikkhu pembina daerah) di DIY. Hadir Juga keluraga besar Pengurus Daerah Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (PD Magabudhi) DIY. Hadir Juga Pembina dan perwakilan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Patria, serta perwakilan kader-kader Patria se DIY.

Acara dibuka dengan Namakhara Patha yang di pimpin oleh Romo Pandita Magabudhi, kemudian dibacakan Berita Acara Muscablub dan Surat keputusan DPD Patria DIY tentang kepengurusan DPC Patria Kota Yogyakarta yang baru, oleh Sdr Agus Wartono sebagai Pimpinan Sidang Muscablub. Dilanjutkan dengan pembacaan janji setia kepengurusan dan pemakaian rompi Patria oleh pengurus DPC Patria Kota Yogyakarta, yang dipandu oleh Sdr. Tri Widiyanto, selaku ketua DPD Patria DIY.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pesan moral oleh Sangha yang disampaikan oleh Bhikkhu Sacadhammo, dan pesan dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Patria, yang diwakili oleh Sdr. Leony Simon, kabid Organisasi DPP Patria, serta dukungan moral dari PD Magabudhi DIY.

Berikut susunan pengurus DPC Patria Kota Yogyakarta 2008-2010 :

Ketua : Iwan Soetrisno
Sekreterais : Adhityawarman
Bendahara : Carolyne Mursito
Sie Pendidikan : Indra Gautama Widya
Sie Humas : Intan gadis Trisnawati
Sie Sosial : R. Olivia Hartono


Pelantikan ditutup dengan Namakhara Patha oleh Romo Pandita Magabudhi

Sejarah Vihara Karangdjati, Dari Kandang Sapi Menuju Kiprah Dunia

Bangunan klasik, tak banyak berubah sejak didirikan, entah siapa pendiri bangunan tersebut, tidak ada yang tahu pasti. Pastinya juga tidak akan terbayang pada awal pembangunannya, jika bangunan tersebut sekarang berfungsi sebagai bangunan sosial, lebih tepatnya tempat ibadah, yang banyak digunakan untuk aktivitas peningkatan spiritual masyarakat khususnya umat Buddha.

Di mungkinkan, bangunan induk Vihara tersebut dibangun pada masa pendudukan Belanda. Oleh pemiliknya, bangunan tersebut difungsikan sebagai kandang sapi perah, sapi yang menghasilkan susu segar. Pada masa tersebut, daerah tersebut belum merupakan perkampungan, tapi masih merupakan lahan yang sangat luas, yang merupakan areal perkebunan tebu, komoditas primadona Yogyakarta pada saat itu.

Dengan peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia, lahan tersebut akhirnya dimiliki oleh Romo Among Pradjarto, seorang tokoh masyarakat yang cukup disegani, yang dikenal memiliki pengetahuan yang winasis.

Adalah Bhikkhu Jinaputta, yang berperan penting dalam alih fungsi Kandang sapi tersebut menjadi tempat ibadah. Pada tahun 1958 Bhante (panggilan kepada Bhikkhu) Jinaputa berkenan menjalankan Vassa di Yogyakarta. Beliau kemudian tinggal di Cetiya Buddha Kirti, Milik Bapak Tjan Tjoen Gie (Gunavarman Boediharjo), sebagai satu-satunya tempat ibadah umat Buddha yang ada di Yogyakarta waktu itu.

Atas saran dan hasil diskusi antara Bapak Tjan Tjoen Gie dan Romo Among Pradjarto, yang memang merupakan teman baik dalam diskusi-diskusi spiritual, Bhikkhu Jinaputta di tempatkan di bekas kandang sapi kepunyaan Romo Among Pradjarto.

Bekas Kandang sapi kemudian di bersihkan, dan jadilah bekas kandang tersebut menjadi tempat vassa bagi Bhante jinaputa. Selama Bhante Jinaputa tinggal di tempat tersebut, maka dimulailah beberapa diskusi seputar agama Buddha. Karena kebanyakan yang datang adalah orang-orang memang mempunyai latar belakang theosofi, kejawen dan ajaran-ajaran kebatinan yang lain, maka tidaklah sulit untuk berdiskusi tentang ajaran tersebut.

Sejak itu, dimulai dari beberapa orang, mulai dikenallah Buddha Dhamma. Atas persetujuan dari pemilik rumah, Romo Among, maka kegiatan keagamaan pun mulai diadakan. Bersamaan dengan itu, delapan orang, yaitu Romo Among Pardjarto, Bpk. Drs Soeharto Djoyosoempeno, Bpk Tjan Tjoen Gie, Bpk Djoeri Soekisno, Bpk Kho Tjie Hong, Bpk Tan Hok Lay, dan Bpk Krismanto, membentuk kesepakatan untuk bersama-sama mengembangkan Buddha Dhamma. Kemampuan beliau berdelapan dalam mengabdi untuk Buddha Dhamma serta semangat yag tak kenal lelah telah melahirkan banyak kemajuan. Merekalah yang kemudian di kenal dengan “Djoyo 8” (Joyo Wolu).

Aktivitas di tempat tersebut kemudian sudah benar-benar merupakan aktivitas Vihara. Sudah tidak dikenal lagi sebagai kandang ternak. Kegiatan rutin berupa Puja Bakti setiap Rabu malam, serta Purnomosidhen (setiap bulan Purnama) dilakukan. Kegiatan tersebut tentu saja membutuhkan tempat yang lebih luas. Maka dibuatlah tempat tersebut menjadi lebih pantas, dilengkapi dengan pagar dan gapura. Tahun 1962, dinyatakan secara resmi menjadi lahirnya Vihara Buddha Karangdjati, meskipun aktivitasnya sudah dimulai sebalum tahun tersebut.

Karena semakin banykanya umat yang datang, serta perlunya penataan secara lebih tertib, maka kemudian dibetuklah sekretariat Vihara Karangdjati. Sebagai sekretaris yang pertama adalah Bpk Eko Legowo. Sekarang lebih dikenal sebagai Dr.Ir. Eko Legowo Msc. Pengajar di Universitas Brawijaya Malang, serta Ketua STAB Kertarajasa Malang. Selain kegiatan rutin berupa Puja Bakti Rabu malam dan Purnomosidhen, ditambah juga dengan puja bakti di hari-hari besar Nasional, Tahun baru Jawa (1 syuro) dan kegiatan lain.

Termasuk juga, Vihara ini pernah di daulat untuk menjadi tim pelaksana penyambutan kehadiran Bhikkhu Narada Mahathera, atau lebih dikenal dengan Bhante Narada, seorang tokoh Buddhis yang cukup dikenal di Dunia, berasal dari Sri Langka. Beliau datang ke Indonesia untuk mengajarkan agama Buddha di berbagai tempat, termasuk kemudian meletakkan batu pertama calon bangunan ‘tempat biara Buddha’ di depan Candi Mendut (Vihara Mendut saat ini). Sebelumnya, tahun 1961, perwakilan dari International Buddhist Centre, Profesor Ananda Thera, Bhikkhu dari Srilanka, juga berkunjung ke tempat tersebut.

Dalam berbagai kesempatan, umat dari Vihara Karangdjati juga terlibat aktif dalam keorganisasian Buddhis secara nasional, termasuk menjadi pelaksana Musyawarah nasional umat Buddha pada tahun 1961 yang dihadiri delegasi dari berbagai kota dan propinsi di Indonesia. Tahun 1969 dibentuk juga Organisasi Wanita Buddhis bernama Perkumpulan Wanita Buddha Jogjakata, yang saat itu diketuai oleh Ibu Ratna Dewi Suprapto.

Kegiatan terus berkembang, pada tahun 1974 Vihara Karangdjati bahkan sanggup menerbitkan Buletin yang dikenal dengan nama Darma Caraka. Di tahun tersebut, generasi yang lebh muda seperti Bapak Djoko Wintolo, Sekarang Ir Djoko Wintolo, pengajar di Fakultas Teknik UGM, sudah mulai berkiprah untuk mengantikan generasi senelumnya. Pada saat itu, sering juga dilakukan latihan Yoga bagi yang berminat.

Tahun 1960an-1970an, Vihara Karangdjati juga aktif meberikan pembinaan ke daerah lain, terutama di Temanggung. Dari Vihara inilah banyak dikirim dhammaduta-dhammaduta yang dipimpin oleh romo Among Pradjarto untuk memgajarkan Buddha Dhamma. Jangan kaget, kalau sampai sekarang, daerah seperti Kaloran, Kandangan, Jumo, Parakan, Candiroto di kabupaten Temanggung, merupakan daerah-daerah yang pemeluk Buddhanya banyak, bahkan bisa dikatakan basis umat Buddha.

Tercatat juga, Vihara Karangdjati adalah pioner dalam pendidikan agama Buddha di sekolah formal. Di mulai dari Bpk Parto, Ibu Kuntarti, Ibu Savitri, Bpk Kusman, Bpk Supriyanto dan Bpk hartono, adalah guru-guru yang mengajar disekolah formal, dari SD hingga SMA di Bhineka (jln. Kranggan). Dari sinilah Departemen Pendidikan kemudian mengangkat guru negeri. Ibu Kuntarti ditempatkan di Gunung Kidul, Bapak Supriyanto di Kulon Progo. Sekarang dari hasil pengajaran beliau, telah banyak guru-guru agama Buddha generasi di sekolah formal.

Dari Karangdjati juga, siaran mimbar agama Buddha di RRI maupun TVRI di buat. Bpk Supono Sudarmadi S.H misalnya, merupakan pengisi ceramah di TVRI pada tanggal 23 Nopember 1969, bergantian dengan pembicara yang lain. Kunjungan baik dari dalam maupun luar negeri juga masih sering datang, termasuk Acarya Dyaneasya B.Rc dari Calcuta India, tokoh sekte yogacarin.

Sebelum tahun 1980an, lingkungan sekitar Vihara masih pedesan, belum banyak kampung seperti sekarang. Lampu yang digunakan adalah lampu Petromaks. Jika malam, musik malam berupa hembusan angin, gemericik air, suara burung malam dan kodok di persawahan masih nyaring terdengar.

Di tahun 1980an, tokoh penting yang menjadi penggerak Vihara mulai menginjak usia tua, bahkan sudah mulai meninggal, termasuk tokoh-tokoh dalam Djoyo 8. puncaknya adalah meningglanya Romo Among Pradjarto, pemilik bangunan dan pemuka utama dari Vihara ini, pada tahun 1992.

Vihara kemudian memasuki masa sulit. Pertengahan 1990an adalah masa tersulit, ketika Vihara sudah kehilangan tokoh panutan utama. Di sisi lain, regenerasi tidak berjalan maksimal, karena anak-anak dan remaja tidak mendapat pendidikan agama Buddha secara formal di sekolah. Kegiatan Vihara hampir dapat dikatakan sekedar untuk bertahan hidup.

Barulah kemudian, dimulai tahun 1998, di dukung oleh bapak Supriyanto, Bapak Soetrisno dkk, Vihara mulai berbenah kembali. Kegiatan mulai dihidupkan, tidak sekedar kegiatan rutin, namun juga kegiatan yang lain. Bangunan fisik juga mulai dibenahi, untuk dapat mendukung kegiatan yang sesuai dengan konteks kekinian.

Bimbingan Dhamma dari para Bhikkhu, terutama dari Vihara Mendut, mulai dilakukan. Bimbingan tersebut bisa diadadakan berupa diskusi, Dhammaclas atau seminar, tergantung kebutuhan. Bhikkhu-Bhikkhu dari luar negeri juga banyak yang datang, seperti Bhante Dhammika Mahathera dari Australia, tokoh Bhikkhu yang cukup disegani di dunia.

Selain Puja bakti, meditasi rutin setiap Jumat juga dilakukan, Perayaan hari besar agama Buddha dilakukan lebih semarak. Perayaan yang lain, seperti tahun baru, kemerdekaan RI juga dilakukan dengan berbagai varisai kegiatan. Anak anak difasilitasi melalui sekolah minggu, remaja dan pemuda juga diwadahi dalam kegiatan kepumudaan, menambah semarak kegiatan vihara. Kepercayaan yang sempat hilang, mulai didapatkan kembali. Umat dari Vihara Karangdjati aktif dalam kepanitiaan Waisak nasional Borobudur 2006, Puja Bakti Agung Asadha 2006 di Candi mendut, Tim Karuna Yogyakarta yang menangani penyaluran bantuan untuk gempa Yogya 27 mei. Bahkan, Desember 2003, Vihara Karangdjati merupakan markas panitia World Buddhis Sangha Concil Executife Conference, yang diadakan di Jakarta, Yogyakarta dan Semarang.

Itulah secara singkat perjalanan bangunan yang sekarang dikenal dengan Vihara Karangdjati. Berbagai kegiatan yang berupa pelayanan keagamaan, pelayanan sosial kemasyarakatan, pendidikan dan fungsi yang lain dilakukan di Vihara tersebut, baik dalam skala kecil maupun intensional. Sungguh tidak terduga, jika hal itu bermula dari sebuah kandang sapi. Dari kandang sapi menuju Kiprah Dunia.