Senin, 26 Oktober 2009

Perayaan Kathina Dana 2553 tahun 2009

Perayaan Kathina dana 2553 tahun 2009 di Vihara Karangdjati diadakan hari Rabu tanggal 21 Oktober. Hadir dalam perayaan tersebut sebagai wakil Sangha adalah BhikkhuJayadhammo dan Bhikkhu Piyadhiro.

Perayaan dimulai tepat jam 19.00 WIB, diawali dengan pembukaan dan sambutan panitia. Dalam sambutannya, panitia dan juga atas nama umat Buddha Vihara Karangdjati memberikan ucapan selamat kepada para Bhikkhu yang telah bertambah usia kebhikkhuannya, serta mengajak umat Buddha untuk memberikan kewajibannya yaitu menyokong kehidupan para Bhikkhu. Hubungan harmonis akan tercipta jika para Bhikkhu menjalankan kewajiban-kewajiban kebhikhhuannya dan umat Buddha menjalankan kewajiban sebagai umat.

Setelah itu, acara dilanjutkan dnegan puja bhakti lengkap dengan permohonan tuntunan sila kepada Bhikkhu Sangha. Dhammadesana pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Bhikkhu Piyadhiro. Dalam khotbahnya, disampaikan tentang makna Kathina, serta sambutan antusias dari umat Buddha. Kathina sebenarnya adalah hari rayanya para bhikkhu, karena dilakukan setelah bhikkhu menjalankan masa vasaa selama tiga bulan. Atas dasar rasa bakti yang tinggi umat antusias merayakan Kathina untuk memberikan sokongan empat kebutuhan para bhikkhu yaitu tempat tinggal, jubah, makanan dan obat-obatan.

Namun demikian hubungan sosial itu tidaklah berhenti di saat Kathina saja. Para umat hendaknya tetap memperlakukan para bhkkhu dengan batasan-batasan etika dan kepantasan, bukan dengan membengun ego karena merasa sudah memberi dan berdana kepada Bhikkhu Sangha. Demikian juga para Bhikkhu tidaklah kemudian memanfaatkannya dalam hubungan materi semata, namun harus tetap kembali dalam sila dan vinaya.

Setelah dhammdesana, tiba saatnya para umat memberikan dana Kathinanya. Acara diawali dengan pembacaan kathinacivaradusam bersama-sama, baru kemudian satu demi satu umat memberikan dana kathinanya. Setelah itu, diadakan acara tuang air yang dilakukan oleh perwakilan umat, sebagai symbol agar kebajikan yang dilakukan pada saat itu juga menumbuhkan rasa mudita dari para leluhur kita.

Acara kathina dana yang dihadiri sekitar 170 umat ini kemudian ditutup dan dianjutkan dengan acara ramah tamah. Selamat merayakan Kathina Dana 2553 tahun 2009 kepada seluruh umat Buddha.


Bhante Piyadhiro memberi pesan Dhamma

Tuang air pelimpahan Jasa

Dana Jubah kepada Sangha

Suasana Perayaan Kathina Dana





Rabu, 14 Oktober 2009

Masa Vassa dan Kathina Dana


Sejarah mencatat bahwa setelah meraih Pencerahan Agung, Sang Buddha melakukan perjalanan ke Taman Rusa Isipatana, di dekat Benares. Beliau membabarkan Dhamma yang dikenal dengan Dhammacakkapavatana Sutta kepada lima orang pertapa yang pernah menjadi sahabatNya? Kondana, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, dan Assaji. Setelah menguraikan khotbah pertama, Sang Buddha tetap tinggal disana. Beliau bertemu dengan Yasa -- anak seorang pedagang kaya raya di Benares -- dan memberikan wejangan Dhamma kepadanya. Disamping itu, Sang Buddha juga membabarkan Dhamma kepada ayah Yasa dan empat sahabat Yasa. Mereka beserta para pengikutnya -- semuanya berjumlah lima puluh lima orang -- meninggalkan kehidupan berumah tangga, memasuki kehidupan tanpa rumah (menjadi Bhikkhu), dan mencapai tingkat kesucian Arahat.


Jumlah siswa Sang Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat pada saat itu sebanyak enam puluh orang. Kepada mereka Sang Buddha menyerukan untuk menyebarkan Dhamma dengan berkata :


"Aku telah terbebas dari semua ikatan-ikatan, O para Bhikkhu, baik yang bersifat batiniah maupun yang bersifat jasmania; demikianlah pula kamu sekalian, sekarang kamu harus menggembara untuk kesejahteraan orang banyak. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama. Babarkanlah Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya. Umumkanlah tentang kehidupan suci yang benar-benar bersih dan sempurna dalam ungkapan dan hakikatnya. Terdapat makhluk-makhluk yang matanya hanya ditutupi oleh sedikit debu. Kalau tidak mendengar Dhamma mereka akan kehilangan manfaat yang besar. Karena mereka adalah orang-orang yang dapat mengerti Dhamma dengan sempurna. Aku sendiri akan pergi ke Senanigama di Uruvela untuk mengajar Dhamma".


Masa penyebaran Dhamma telah dimulai. Tetapi pada saat itu Sang Buddha belum menyatakan masa Vassa dan masa Kathina. Semangat untuk menyebarkan Dhamma dalam diri para Bhikkhu nampaknya sangat besar.Hal ini bisa terlihat dari adanya sekelompok Bhikkhu yang mengadakan perjalanan pada musim dingin, musim panas, maupun musim hujan (Sebagaimana diketahui di India hanya dikenal tiga Musim).


Melihat hal ini masyarakat mengkritik dengan mengatakan, "Mengapa para Bhikkhu Sakyaputta (murid-murid Sang Buddha) mengadakan perjalanan pada musim dingin, panas dan musim hujan sehingga mereka menginjak tunas-tunas muda, rumput-rumputan, serta merusak kehidupan yang sangat penting dan mengakibatkan binatang-binatang kecil mati? Tetapi pertapa-pertapa lain, yang walaupun kurang baik dalam melaksanakan peraturan (Vinaya), namun mereka menetap selama musim hujan".


Mendengar keluhan masyarakat tersebut, beberapa orang Bhikkhu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian di atas. Sang Buddha kemudian memberikan keterangan yang masuk akal, dan bersabda :


"Para Bhikkhu, saya izinkan kamu untuk melaksanakan masa Vassa".


Kemudian terpikir oleh para Bhikkhu,"Kapan masa Vassa dimulai ?".


Mereka menyatakan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau kemudian menyatakan, "Saya izinkan kamu melaksanakan masa Vassa selama musim hujan".


Kemudian terpikir lagi oleh para Bhikkhu, "Berapa banyak periode untuk memulai masa Vassa ?".


Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha, Beliau berkata,


"O para Bhikkhu, terdapat dua masa untuk memasuki masa Vassa, yang awal dan yang berikutnya. Yang awal dimulai sehari setelah purnama di bulan Asalhi (Kini dikenal dengan Hari Raya Asadha) dan yang berikutnya dimulai sebulan setelah purnama di bulan Asalhi. Itulah dua periode untuk memulai musim hujan". Sejauh ini belum ada ketetapan mengenai Kathina Upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Sang Buddha baru menetapkan masa Vassa dan sejak saat itu, para Bhikkhu melaksanakan masa Vassa. Pada masa Vassa para Bhikkhu menetap selama musim hujan dan melatih dirinya.


Kathina mempunyai kisah tersendiri, sebagai berikut, pada waktu itu Sang Buddha menetap di Savatthi, di hutan Jeta di vihara yang di dirikan oleh Anathapindika. Ketika itu terdapat tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava sedang mengadakan perjalanan ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Buddha.


Ketika masa Vassa tiba, mereka belum sampai di Savatthi. Mereka memasuki masa Vassa di Saketa dengan berpikir, "Sang Buddha tinggal sangat dekat, hanya enam yojana dari sini tetapi kita tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Sang Buddha".


Setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, dengan jubah basah kuyup dan kondisi yang lelah mereka sampai di Savatthi. Setelah memberi hormat, mereka duduk dengan jarak yang pantas.


Sang Buddha berkata, "O para Bhikkhu, semoga semuanya berjalan dengan baik. Saya berharap kalian mendapatkan sokongan hidup. Selalu penuh persahabatan dan harmonis dalam kelompok. Kamu melewatkan masa Vassa dengan menyenangkan dan tidak kekurangan dalam memperoleh dana makanan".


Kemudian para Bhikkhu menjawab: "Segala sesuatu berjalan dengan baik, Sang Bhagava. Kami mendapatkan sokongan yang cukup, dalam kelompok selalu penuh persahabatan dan harmonis, dan mendapatkan dana makanan yang cukup. Kami sebanyak tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Bhagava, tetapi ketika musim hujan mulai, kami belum sampai di Savatthi untuk bervassa. Kami memasuki masa Vassa dengan penuh kerinduan dan berpikir, Sang Bhagava tinggal dekat dengan kita, enam yojana, tetapi kita tidak mempunyai kesempatan melihat Sang Bhagava. Kemudian kami, setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, menjalankan pavarana, hujan, ketika air telah berkumpul, rawa telah terbentuk, dengan jubah yang basah kuyup dan kondisi yang lemah dalam perjalanan yang jauh".


Setelah memberikan wejangan Dhamma,Sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu, "O para Bhikkhu, Saya izinkan untuk membuat jubah Kathina bila menyelesaikan masa Vassa secara lengkap........".


Demikianlah izin membuat jubah Kathina ditetapkan Sang Buddha ketika Beliau tinggal di Savatthi.


Sampai sekarang Kathina tetap diperingati sebagai upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha. Hubungan harmonis antara Bhikkhu Sangha dan umat awam seperti yang tercermin dalam masa Kathina ini, sungguh merupakan suatu berkah dalam kehidupan ini. Kathina memang memberikan makna yang mendalam bagi umat Buddha.


Selamat merayakan kathina Dana 2553 tahun 2009


sumber : dari SINI


Senin, 05 Oktober 2009

Update Laporan Penerimaan Dana Gempa bumi

Berikut Laporan penerimaan Dana Gempa Bumi Sumatera via Vihara Karangdjati. jika masih ada kesalahan penulisan nama dimohon konfirmasi lagi, terimakasih

Penggalangan Dana dilakukan selama satu minggu dan telah ditutup pada tanggal 9 Oktober 2009, berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 22.888.888. Terimakasih atas segala dukungan dan partisipasi dari Bapak/Ibu/ Sdr/Sdri sekalian, semoga akan membawa manfaat dan kebaikan bagi kita semua


(untuk melihat laporan lebih jelas, silakan gambar di klik)


sesuai yang telah disampaikan di awal penggalangan dana, bahwa dana yang terkumpul akan diaslurkan melalui "Karuna Mitta" dan sudah disalurkan ke rekening Karuna Mitta Pusat.

Jumat, 02 Oktober 2009

Karuna: Peduli Gempa Bumi Padang

Sebagai wujud kepedulian dan karuna kita, Vihara Karangdjati mengadakan penggalangan dana untuk korban Gempa Padang, dana bisa ditransfer melalui rekening PD Magabudhi DIY an Soetrisno, BCA No 169.180.0003 KCP Ahmad Dahlan Yogyakarta, konfirmasi ke Indra HP 0878.3959.4552. Dimohon untuk menyertakan ekor angka 9 pada transfer untuk memudahkan pengecekan. Dana bisa juga diberikan tunai ke sekretariat Vihara Karangdjati pada jam kegiatan. Dana akan disalurkan melalui Gerakan Karuna Mitta , gerakan sosial dalam Keluarga Buddhis Theravada Indonesia.


Mari berbagi, semoga bermanfaat bagi para korban dan untuk kebaikan kita semua