Kamis, 21 Juli 2011

Perayaan Waisak 2555 tahun 2011


Keindahan Vihara Karangdjati ketika Padaksina berlangsung

 
Khimad membacakan renungan Waisak


Suasana khimad dalam Perayaan waisak
Perayaan waisak 2555 tahun 2011 di Vihara Karangdjati diadakan pada tanggal 8 Juni 2011, mulai jam 19.00. Perayaan ini dihadiri sekitar 300 umat Buddha se-Jogja. Hadir dalam perayaan ini Bhikkhu Jotidhammo Mahathera dan Bhikkhu Piyadhiro.
Dalam kotbah waisaknya, bhikkhu Jotidhammo, mengingatkan tentang perkembangan sosial yang seprtinya tak pernah lepas dari konflik. Menurut beliau, konflik tersebut bukannya tak dapat diatasi, konflik dapat diatasi selama manusia memiliki kedamaian dalam hidupnya. Sedangkan kedamaian membutuhkan kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadi. Tekad teguh untuk menghayati kebenaran dhamma akan menkondisikan timbulnya penyelesaian konflik. Itulah sebabnya tema perayaan kali ini adalah kedamaian cahaya kebenaran.
Selain puja, dhammadesana dan meditasi, pada perayaan ini juga diadakan pradaksina, yaitu memberi penghormatan dengan mengelilingi obyek penghormatan (pathimaghara) selama 3 kali.

Detik detik Waisak 2555 tahun 2011 Vihara Karangdjati


 Tumpeng untuk sesepuh Vihara


Suasana ramah tamah setelah detik-detik waisak


Hari yang paling ditunggu oleh umat Buddha tiba. Tanggal 17 Mei 2011, adalah tepat hari waisak 2555 tahun 2011. Umat Buddha diberbagai tempat tentu saja antusias untuk menyambut detik-detik waisak yang pada tahun ini tepat pada pukul 18:08:23 WIB.
Di vihara karangdjati, dihadiri sekitar seratus umat Buddha, acara dimulai tepat jam 17.50. Peringatan detik-detik ini diisi dengan puja, dan secara khusus membacakan vesakha puja khata, atau puja di hari waisak. Acara membaca parita dan puja ini berlangsung selama setengah jam, dan dilanjutkan dengan meditasi. Dengan demikian pada saat tepat detik-detik waisak, umat bersama-sama melakukan meditasi menyambutnya.
Usai meditasi, dibacakan pesan waisak 2555 tahun 2011 dari sangha Theravada Indonesia, yang dibacakan oleh Romo Supriyanto selaku ketua Vihara. Tema waisak kali ini adalah kedamaian cahaya kebenaran. Melalui pesan tersebut, Sangha Theravada Indonesia menekankan 6 hal, yaitu berpikir dengan cinta kasih, berucap dengan cinta kasih, berbuat dengan cinta kasih, kepedulian sosial, kesusilaan sosial dan memiliki pandangan sosial yang terbuka.
Setelah ditutup, acara kemudian dilajutkan dengan saling mengucapkan selamat waisak antar umat, dan sambung rasa, berupa ungkapan waisak dari umat yang paling senior dan paling muda, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng waisak.

Diskusi “Jejak Buddha di Tanah Jogja”


Acara dhammasharing rutin pada tanggal 9 Mei 2011 sangat istimewa. Hal ini dikarenakan hadirnya pembicara tamu, Bapak Kris Budiman. Kehadiran pak Kris, panggilan akrab beliau, dalam rangka menyampaikan hasil jelajah yang dilakukan oleh beliau untuk menelusuri keberadaan candi-candi di berbagai lokasi. Acara ini bertajuk diskusi jejak Buddha di tanah Jogja.
Iya, pak Kris ini hobi sekali jalan-jalan ke candi-candi dan situs sejarah lainnya, baik ke tempat yang sudah terkenal maupun tempat yang belum terdata. Pada kesempatan tersebut, beliau sharing tentang 18 situs candi Buddha yang ada di sekitar Jogja. Jumlah yang sangat banyak, dan tidak diduga oleh peserta yang hadir.
Ada beberapa candi yang terawat dengan baik, ada juga yang tinggal serakan batu. Semua dipaparkan oleh Pak Kris Budiman, serta dibri penjelasan singkat tentang lokasi, hal-hal yang unik dan apa yang tersisa. Beberapa bahkan tinggal batu berserakan di halaman pemukiman, ada yang tinggal stupa di tengah kampung, bahkan ada yang hanya terlihat seperti pondasi talud bangunan saja. Ada juga yang lokasinya sulid dijangkau karena berada di lereng tebing.