Kamis, 21 Juli 2011

Doa Syukur Umat Buddha dalam rangka HUT Kabupaten Sleman


Doa syukur umat Buddha dalam rangka hari jadi kabupaten sleman ke 95 dipusatkan di Vihara Karangdjati, pada hari Rabu tanggal 11 Mei 2011. Acara ini dihadiri sekitar 100 umat Buddha, serta beberapa perwakilan pemerintah kabupaten Sleman.
Acara hari jadi kabupaten Sleman ini tahun sangat istimewa karena hanya beberapa bulan setelah erupsi Merapi, yang menimpa wilayah kabupaten sleman. Hal itu juga yang menjadi tema utama peringatan kabupaten sleman tahun ini, sepereti tercermin dalam sambutan bupati Sleman dalam doa bersama tersebut, bahwa masih banyak yang harus dikerjakan, serta masih panjang menyelesaikan masalah Merapi. Untuk itu selain rasa syukur perlu juga untuk menetapkan komitmen bersama untuk berkerja optimal sesuai dnegan profesi dan tugas masing-masing oleh seluruh masyarakat kabupaten sleman.
Dalam dhammadesana pada kesempatan doa syukur umat Buddha ini, Romo supriyanto mengingatkan tentang kekukatan persatuan. Berbahagialah mereka yang selalu menjaga persatuan, seperti yang pernah sang Buddha sampaikan, samaggamang tapo sukkho, demikaian lanjut Romo Supri.
Selamat ulang tahun ke-95 kepada kabupaten Sleman, semoga semakin maju dan terwujud masyarakat yang sejahtera di wilayah Sleman.

Pasamuan Agung VIII Magabudhi

Yogyakarta mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Pasamuan agung  Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) VIII yang diselenggarakan di Hotel Saphir, pada tanggal 22-24 April 2011.  Acara Pasamuan dengan agenda utama membuat program kerja 5 tahun ke depan, menetapkan penghormatan berupa gelar maha pandita  kepada para romo9/ramani senior yang berjasa untuk Magabudhi dan perkembangan umat Buddha, serta memilih pengurus Pusat untuk masa pengabdian 5 tahun.
Acara pasamuan ini dihadiri sekitar 300 Romo/ramani sebagai utusan dari berbagai daerah seluruh Indonesia, dibuka oleh Dirjen Bimas Buddha kementrian Agama Irjen Pol (purn) Drs. Budi Setyawan, Msc. Selain dengan pembahasan berbagai masalah organisasi dan pembinaan umat, diselenggarakn juga diskusi tentang status dan kedudukan tempat ibadah, prosedur pengajuan bantuan kepada kementrian agama dan menyoroti kecenderungan turunnya jumlah umat di daerah tertentu. Hasil diskusi itu yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk program kerja yang lebih konkret.
Pasa pasamuan ini juga ditetapkan maha pandita, karena jasa pengabdiannya di Magabuddhi untuk perkembangan Umat Buddha, yaitu Romo Ratna Surya Widya (Jakarta), Romo T Harmanto (banten), Romo Hendri Basuki (semarang) dan Ramani Kemavati (Surabaya).
Terpilih sebagai ketua dalam pasamauan ini adalah Romo dr. Dharma K Widya, yang akan memimpin Magaudhi selama lima tahun kedepan. Selamat mengabdi Romo dan ramani…

Anjangsana SMB ke Candi Banyunibo


Daerah sekitar Jogja banyak sekali ditemukan candi-candi buddhis peninggalan jaman mataram kuno. Mengenal candi-candi Buddha tersebut akan dapat menambah pengetahuan sejarah, meningkatkan kekaguman sejarah serta pada akhirnya meningkatkan keyakinan umat Buddha.
Untuk itu, Minggu, 27 Maret 2011, Sekolah Minggu Vihara Karangdjati melakukan anjangsana ke salah satu candi buddhis, yaitu candi Banyunibo yang terletak di desa Bokoharjo, kecamatan Prambanan kabupaten Sleman, tepatnya sebelah selatan kompleks candi Ratu Boko
Kesempatan yang sangat baik, karena mengenalkan candi buddhis kepada anak-anak, sekaligus mengajarkan bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika berada di candi Buddhis. Begitu datang, rombongan anak-anak ini selain dikenalkan dengan bangunan candi, kemudian diajak untuk melakukan puja bakti di ruangan candi. Anak-anak siswa sekolah minggu ini juga dilatih menghormati bangunan  suci candi dengan cara melepas alas kaki. Rangkaian puja bakti ini dilengkapi dengan meditasi dan pradaksina juga.
Acara hiburan dan rekreasi juga tak lupa. Setelah rangkaian puja selesai, dilakukan banyak permainan yang menghibur serta ditutup dengan rangkaian ulang tahun bersama. Acara rekreasi ini dilakukan dengan tetap menghormati candi tanpa kehilangan keceriaan.
Semua rangkaian ini selain mengenalkan candi buddhis, juga mengenalkan bagaimana bersikap yang baik kepada candi-candi buddhis. Kalau umat Buddha sendiri tidak bisa memperlakukan dengan  baik candi-candi Buddhis, bagaimana kita berharap kepada orang lain untuk melakukannya ?